Anak Rantau. Powered by Blogger.

Search This Blog

Thursday, September 13, 2012

Senja di Pantai Ulee Lheue

Sepasang suami istri itu nampak sedang duduk-duduk ditanggul sebuah pantai sambil menikmati pemandangan senja. Cahaya kuning keemasan di ujung senja yang mulai beranjak keperaduannya. Sang surya yang sebentar lagi bersembunyi dibalik perbukitan disebelah barat pantai Ulee Lheue.

"Indah nian ya Kak?"
"Iya."
"Senangnya melihat anak-anak berlarian dipasir pantai."
"Suatu saat nanti jika anak kita sudah lahir dan sudah bisa berlarian, aku akan mengajaknya ke pantai ini lagi."
"Kakak suka sekali dengan pantai ini, bahkan sampai pernah mengigau menyebutkan nama pantai Ulee Lheue. Ada kenangan yang indahkah Kak di pantai ini?"

Virnie menengok kesamping sambil memperhatikan wajah suaminya yang menyiratkan wajah kesedihan walau ditutupinya dengan senyum lembut yang terpapar sinar keemasan matahari senja.

"Iya, dipantai ini tersimpan kesedihan seperti ketika Ibu meninggalkanku dalam kesendirian, dan tersimpan juga keindahan seperti saat kita duduk dipelaminan beberapa bulan yang lalu." Budi menatap lembut wajah istrinya sembari mengusap perutnya yang sedang hamil empat bulan.
"Ceritakanlah Kak, kesedihan yang tersimpan kita bisa bagi berdua. Dan kegembiraannya aku juga ingin turut merasakannya."

****

SMAN 10 Palembang, April 1995.

"Cie..cie... yang lagi berdua-duaan dibawah pohon rindang hahahaha...." Suara Wati cempreng sambil berlari menuju kelas 3-A1 di samping mushola sekolah.

Budi dan Fitri yang lagi asih menikmati pempek dan segelas es jeruk hanya tersenyum mengejek kearah Wati yang sudah hilang tertutup pintu kelas.

"Jadi kamu memilih PMDK ke USU ya Fit?"
"Iya."
"Pilih Fakultas apa?"
"Pertanian. Akukan suka tanam-tanam, termasuk menanam cintamu dihatiku hahaha..." Tawa renyah Fitri dengan wajah berseri.
"Kenapa musti ke Aceh, di UNSRI saja denganku. Nanti kalau aku mau melamarmu gimana? Kan kejauhan Fit hahahaha..."

Gantian sekarang wajah Fitri yang memerah kembang sepatu. Tetapi terselip harapan dan kebahagiaan dalam hatinya.

"Sebenarnya aku juga berat meninggalkan Kota Palembang ini Bud. Tapi Mama ingin kami pindah ke Aceh. Kakak sulungku bekerja dan tinggal disana."

"Surat-surat perlengkapan dan Ijazah sudah kamu ambil?"
"Hari ini akan kuurus semuannya. Tapi sebelumnya maukah kamu berjanji Bud?"
"Janji apa? Melamarmu hahaha..."
"Gak yee.... wexx...." Jawab Fitri pura-pura cemberut.
"Serius Bud."
"Iya, janji apa?"
"Setelah kamu lulus nanti kunjungi aku di Aceh."
"Iya, aku janji."
"Gak percaya.."
"Eh, kok gitu?"
"Kamu kan suka boong."
"Aku janji Fitri sayang...." Jawab Budi sambil membelalakkan matanya.
"Kaitkan jari"
"Ya aku janji."
"Aku percaya. Aku tunggu sampai kamu lulus kuliah di UNSRI Bud." Fitri menundukkan wajahnya dan tak terasa air airmatanya sudah meleleh di pipinya.

Budi hanya diam, termenung dan mencoba tersenyum walaupun dihatinya terselip kesedihan yang mendalam.

"Ayok Bud, temeni aku ke ruang Kepala Sekolah." Ajak Fitri sambil beranjak menuju ruang Kepala Sekolah.

****

Aceh, 25 Desember 2004.

"Senja yang indah." Gadis cantik itu memulai pembicaraannya.
"Kamu suka pantai?"
"Iya Kak."
"Eh, sejak kapan kamu memanggilku Kakak? Hahaha...." Budi tertawa mendengar Fitri memanggilnya Kakak untuk yang pertama kalinya.
"Sejak Kak Budi melamarku semalam didepan Ibu dan Kakak".
"Sayang ya, Bapak tak bisa menyaksikannya ya Fit?"
"Iya Kak, sejak kecil Bapak sudah meninggalkan kami."
"Setelah Kita menikah nanti, Ingin sekali aku menggantikan figur Bapakmu yang telah lama hilang dari hidupmu."

Fitri hanya terdiam, tapi hatinya tersenyum bungah merekah tersiram beribu kebahagiaan."

"Kakak kerjanya libur berapa hari? Aku setelah tahun baru baru masuk kerja lagi."
"Sama Fit, aku juga libur sekalian ambil cuti dari sebelum natal sampai selepas tahun baru."

Hening, mereka berdua asik memandang lepas sepanjang garis pantai. Menikmati indahnya senja di patai Ulee Lheue nan cerah merona keemasan bak simponi indah yang mengiringi kebahagian dua insan yang sedang merencanakan bahtera rumah tangga mereka. Sesekali mereka berpandangan, saling menunduk, dan kembali tersenyum ceria disaksikan camar-camar yang beterbangan diantara nyiur yang melambai-lambai menunggu malam yang akan meyebarkan gelapnya kesegenap pantai.

"Malam ini kita nginap dimana Fit."
"Di penginapannya Tante Nurul aja Kak, aku udah pesen dua kamar kok. Sekalian nanti aku kenalkan Kakak sama Tante."
"Ooo... Tante Nurul yang orangnya Galak itu ya Fit? hahaha.."
"Ah, cuma wajahnya aja Kak yang kelihatan galak. Tetapi hatinya sangat baik. Beberapa kali juga Tante Nurul membayari semesteran kuliahku dulu."
"Oh... gitu ya." Jawab Budi sambil menarik nafas lega.
"Yuk Kak kita ke penginapan, hari sudah mulai gelap."

Senja sudah berlalu, malam sudah menyambut segenap pantai Ulee Lheue. Kedua sejoli inipun beranjak menuju penginapan yang tak jauh dari pantai.

****

Pagi Hari Pantai Ulee Lheue, 26 Desember 2004.

"Selain senja, aku juga suka suasana pagi dipantai ini Kak."
"Ah, kamu ini. Jangan-jangan kamu lebih cinta pantai dari pada aku ya??" Ujar Budi dengan raut wajah merajuk.
"Nggak lah Kak, rasa cinta dihatiku sudah habis diterjang badai cintamu."
"Hahahaha.... Nggombal..."

Mereka berdua saling bercanda dan tertawa hingga waktu menunjukkan jam 7.30.

"Fit, aku masih penasaran nih. Kenapa kamu sangat menyukai pagi dan senja di pantai Ulee Lheue ini? Hingga setiap kamu menelponku selalu saja ingin mengajakku kemari."

Fitri diam sejenak, dipandanginya wajah Budi yang sudah semakin matang dan dewasa. Lalu dia duduk disebuah batu pantai yang ada didekatnya.

"Entahlah Kak, sering sekali didalam mimpiku aku berlarian mengejar ombak di pantai ini disaat senja. Dilain waktu aku bermimpi ombaklah yang gantian mengejarku dipagi hari."
"Ah, mimpi hanyalah bunga tidur. Atau mungkin bisa juga menggambarkan awal dan akhir perjalanan hidup kita. Jangan-jangan kelak hari tua kita akan kita habiskan dipantai ini hehehe...."
"Atau akhir dari kehidupanku akan berlabuh dipantai ini...."

Budi terdiam dan hanya memandangi wajah cantik Fitri tanpa berkedip. Tanpa mereka sadari tiba-tiba tanah bergetar hebat. Fitri teriak dan terjatuh terhempas ke pasir pantai.

"Kakak, tolong aku. Kepalaku pusing sekali.." Teriak Fitri sambil berusaha bangun tapi terjatuh lagi.
"Iya Fit, jangan berdiri. Berbaring saja. Sepertinya baru saja terjadi gempa." Budi melangkah mendekati Fitri meraih bahunya sambil berbaring disamping Fitri.
"Kukira kakiku memang gemetar, ternyata gempa. Aku takut kak."
"Gak usah takut sayang, ada saya disini. Sebentar lagi pasti gempanya selesai."

Sepuluh menit kemudian mereka berdiri. Memandang sekeliling. Air laut surut jauh kearah lautan sampai bayak ikan-ikan kecil yang berlompatan karena tak menemukan air.

"Wah, besar juga gempanya. Beberapa kali aku mengalami gempa, tapi tak pernah sekuat dan selama ini." Seru Budi sambil membantu Fitri untuk berdiri.
"Kak, ayuk kita kembali ke penginapan Tante Nurul. Nanti Tante Nurul kebingungan mencari kita."

Mereka berdua berlarian menyusuri pantai menuju penginapan. Disepanjang jalan mereka melihat orang-orang berlarian dan beberapa rumah roboh porak poranda. Pepohonan banyak juga yang tumbang berlintangan di jalan setapak. Sesampainya dipenginapan, Tante Nurul sudah tergopoh-gopoh cemas sambil berteriak-teriak.

"Fitrii..., Budii.... cepat kita lari ketempat tinggi, air laut surut. Takut terjadi banjir." Tante Nurul berteriak keras sekali dan terlihat sangat panik. Apalagi tetangga-tetangga sebelah sudah berlarian riuh seperti hendak berebut sembako gratis.

"Bentar tante, saya ambil dompet dulu dikamar."Teriak Budi sambil lari menuju kamarnya.
"Kak.... " Fitri berlari sekuatnya menyusul Budi kekamarnya.

Sesampainya dikamar Fitri langsung memeluk Budi. Wajahnya pucat pasi.

"Ada apa??"
"Gelombang Kak..... Gelombang.........." Teriak Fitri histeris.

Sekilas Budi melihat Ombak yang sangat tinggi, setinggi pohon kelapa yang hanya berjarak seratus meteran. Secepat kilat Budi menarik Fitri masuk kekamar dan membanting pintu.

"Ya Allah.... Tak ada waktu lagi...." Budi memeluk erat Fitri seakan engan dipisahkan walaupun oleh ombak yang setinggi gunung. Apapun yang terjadi dia tak akan melepaskannya.
"Kak Budi, Maafkan aku...." Suara lirih Fitri dibalik rasa takutnya yang menbuncah.

"BRAKKkkk....." Ombak tinggi nan kuat menerjang dan meyapu bersih apa saja yang terlewati disepanjang pantai Ulee Lheue. Sekitar setengah jam dari amukan ombak laut, air kembali surut. Tak ada satu bangunan rumahpun yang masih berdiri. Tak terdengar lagi suara jeritan, bahkan suara jangkrik dan kodokpun seakan sirna ditelan kesunyian. Hening. Sepi. Hanya burung-burung camar yang masih beterbangan kian kemari sekan tak menyadari apa yang baru saja terjadi.

****

28 Desember 2004

"Tok..tok..tok... Fitri... Hay bangun. Sudah pagi. Mau menikmati matahari pagi nggak??"
"Iya..iya... Bentar kak. Mau cuci muka dulu.." Sahut Fitri dari dalam kamarnya.
"Gak usah cuci muka. Aku mau lihat, kalau kamu bangun tidur cantik gak sih hahahha...."
"Udah. Cantik kan?? wekkk..." Cibir Fitri ketika membukakan pintu kamarnya.
"Orang udah bedakan, ya cantik lah..."
"Kayak siapa?"
"Kayak nenek sihir hahahhaa...." Jawab Budi sekenanya sambil berlari keruang tamu.
"Huuu... awas ya." Bergegas Fitri menyusul keruang tamu.
"Eh Fit, Tante Nurul kemana? Kok sepi yah. Tamu-tamu penginapan yang lain juga pada gak ada.." Sejenak Budi memandang sekeliling ruang tamu yang memang sunyi sepi.
"Mungkin lagi pada keluar kali Kak. Atau lagi pada menikmati udara pagi dipantai."
"Tapi perasaan kok ada yang aneh ya Fit, Pintu depan dan jendela semuanya terkunci. Apa Tante gak tahu ya kalau kita masih didalam."

Masih dengan perasaan bingung akhirnya Budi duduk menghempas dikursi ruang tamu. Fitri mengikuti duduk disampingnya.

"Iya kak, perasaan kok ada yang aneh. Aku merasa tidurnya lama sekali. Kayak tidur tiga hari tiga malam dan baru terbangun."
"Baru saja aku mau bertanya padamu. Aneh, dan hey lihatlah pantai juga sepi seperti kota mati..."

Dengan seksama mereka mengamati garis pantai yang nampak dari kaca nako di ruang tamu. Sunyi mencekam, walaupun matahari pagi sudah memastikan keberadaanya di langit timur. Terbersit juga rasa takut di hati Fitri, tapi begitu ingat Budi ada disampingnya, rasa takut itupun pudar. Sementara Budi masih terlihat bingung dengan keadaan yang menjadi sunyi.

"COBA CARI YANG SEBELAH SANA." Terdengar suara yang entah berasal dari mana begitu saja masuk ke telinga Fitri.

"Kak, dengar ada suara orang. Suaranya lemah seperti angin sepoi-sepoi."
"Aku gak dengar apa-apa." Jawab Budi sambil berusaha mencari sumber suara.
"Ada Kak, walaupun lemah tapi aku dapat mendengarnya dengan jelas."
"Ah, sudahlah. Kita tunggu saja. Nanti pasti Tante pulang. Kita ngobrol aja disini. Aku bikinin kopi ya?".
"Iya Kak."

"COBA CARI LAGI LEBIH TELITI."

"Kak Budi, aku mendengar suara lagi."
"Iya, aku juga mendengarnya. Seperti ada yang lagi mencari sesuatu."
"Aku takut Kak.."
"Tenang sayang, kita konsentrasikan fikiran kita. Coba kita ingat-ingat, kemarin kita melakukan aktifitas apa? Aku kok jadi lupa semuanya ya Fit."
"Aku juga tidak ingat Kak, terakhir yang kuingat kita menikmati keindahan senja di pantai."
"Oh, iya. Aku juga ingat. Menjelang malam kita menikmati jagung bakar sambil nonton TV dirungan ini bersama Tante Nurul kan?"
"Iya Kak, Aku juga ingat."
"Lalu kita tidur dan perasaan lama sekali baru terbangun."

Otak Budi bekerja keras mengingat-ingat apa yang sebenarnya terjadi. Tapi tetap saja dia menemui jalan buntu tak menemukan apapun selain waktu berjalan normal hingga mereka menemukan kesunyian ini.

"HAI.. KESINI, SEPERTINYA ADA DUA ORANG".

"Kak, suara itu terdengar lagi. Lebih dekat dan jelas."
"Aku dengar, pasti sudah banyak orang diluar." Budi berdiri untuk melihat sekeliling rumah.
"Jangan pergi Kak, Aku takut."
"Badanmu dingin sekali."
"Iya Kak, aku kedinginan."
"Ini kuselimuti jaketku."
"Kak, semuanya menjadi gelap. Dimana Kakak?"
"Aku disini. Duduk disebelahmu".
"Pegang tanganku Kak."
"Sudah sayang."
"Aku tak merasakannya."
"Aku juga, dimana kamu sayang."

"GALI TERUS, SUDAH TERLIHAT ADA DUA ORANG."

"Kak, aku merasa kalau kita sudah meninggal."
"Ah... apakah ini akhir dari kehidupan kita Dik"
"Ya Allah... Ampunilah dosa-dosa kami ya Allah..."
"Amin.."
"Kak, apakah Kak Budi mau berjanji lagi"
"Iya, aku janji sayang."
"Dikehidupan nanti jika kita bertemu lagi, Kak Budi masih mencintaiku."
"Aku janji Dik... Aku janji..."
"Kak, aku kedinginan. Maafkan aku telah mengajakmu ke sini."
"Sayang.., jangan tinggalkan aku..."
"Aku menunggumu Kak.."
"Sayang, jangan tinggalkan aku.... sayang..... Fitriiii............"

Jeritan Budipun berakhir dengan kesunyian.

"KETEMU PAK, PEREMPUAN DAN LAKI-LAKI. YANG PEREMPUAN SUDAH MENINGGAL TERTIMPA BALOK KAYU. YANG LAKI-LAKI SEPERTINYA MASIH BERNAFAS PAK."

"CEPAT KELUARKAN MAYATNYA, DAN YANG MASIH HIDUP LANGSUNG BAWA KE AMBULANCE."

"BERUNTUNG SEKALI PEMUDA INI, PADAHAL SUDAH TIGA HARI DIA PINGSAN TERTIMBUN DI RERUNTUHAN INI. PEREMPUAN ITU TELAH MENYELAMATKAN JIWANYA DARI TIMPAAN BALOK KAYU"

****

"Kak, seandainya Kak Fitri masih hidup, aku bersedia berbagi kebahagiaan ini bersamanya." Virnie memandang wajah Suaminya dengan senyum dan sorot mata penuh keiklasan.

"Waktu tidak mungkin diputar balik Dik, semua manusia akan menjalani takdirnya sendiri-sendiri."
"Iya Kak."
"Kita doakan saja semoga dia bahagia disisi-Nya. Aku juga sudah menemukan sosoknya dalam dirimu. Hatimu selembut dirinya."
"Terima kasih Kak, Aku tersanjung." Seulas senyuman manis mengembang di bibir Virnie yang semakin membuatnya Budi tertegun seakan ada dua jiwa didalam diri istrinya.
"Hatiku tenang sekarang. Telah kuceritakan apa yang menang harus kuceritakan padamu, bahwa ada jiwa yang telah menitipkan hidupnya pada diriku."

Virnie hanya terdiam, Menyandarkan kepalanya dipundak suaminya, sambil menikmati irama senja yang seperti mendendangkan nyanyian indah disela-sela selaput hatinya.

"Yuk Dik kita pulang, sebentar lagi malam." Budi berdiri sambil memegang tangan istrinya, berjalan menyusuri tanggul pantai menuju tempat diparkir mobilnya. Meninggalkan senja di pantai Ulee Lheue yang telah mengukir beribu kenangan yang tak terlupakan.

TAMAT

Nb :
Cerpen ini terinspirasi oleh tragedi tsunami yang menimpa Aceh pada 26 Desember 2004. Semoga semua yang menjadi korban bencana, diterima disisi Allah SWT. Dan yang masih selamat sampai sekarang, diberikan kekuatan untuk menjalani kehidupan yang baru. Amin.

60 comments:

  1. Aku isih ra dong yang bagian sebelum perempuannya mati tertimpa balok itu... jadi mereka masih sempet ngobrol gitu?? Hahaha sori bro, aku ra dongan ki @.@

    Tapi anyway, bagus lho... lagi demen bikin cerpen yak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iki lak critane Budi isih urip tapi semaput. Nah, dalam semaputnya itu Budi ngimpi ngobrol sama Fitri, gitchu..

      Delete
  2. Waktu tak dapat di putar ulang, dan semua kisah ada masanya sendiri-sendiri...Fitri di masa SMA dan Virnie hadir setelah Fitri tiada, keduanya memiliki 'nilai' yang tdk bisa di banding-dibandingkan karena memiliki alurnya sendiri-sendiri

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak Ririe, semua akan terlewati dengan takdirnya sendiri2 :)

      Delete
  3. Kalo di Palembang, 'kakak' itu buat manggil kakak laki-laki. Tapi, kalo di Aceh, 'kakak' itu buat manggil kakak perempuan. Kalo laki-laki dipanggil 'abang', ato kalo yang masih Aceh banget manggilnya 'aduen'. Cerpen ini make adat yang mana? Palembang ato Aceh?

    Overall, ceritanya oke. Pertahankan prestasimu. *kayak di rapor*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jane wes kepikiran Ndah, ning kelalen hahaha...

      Suwun wes di elingke :)

      Delete
  4. wah banyak kenangan indah di Pantai Ulee Lheue ya sobat, bacanya sampe kebawa pikiran...

    ReplyDelete
  5. pantai memang bisa membawa sebuah kenangan, nyebut nama pantainya susah ya..

    ReplyDelete
  6. semoga si budi nggak sedih lagi ya...meskipun kenangan tentang fitri pasti sulit untuk di lupakan ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Udah gak sedih kok mbak, sekarang udah bisa BW lagi hahaha...

      Suwun Mbak wes mampir :)

      Delete
  7. Replies
    1. Sehat mbak, dah bisa buat cerpen hehehe...

      Delete
  8. Hebat kamu sobat Anak Rantau. Kamu sudah bisa membuat cerpen. Kalau saya nilai, nilainya sudah mencapai 8.5.
    Mampu memancing orang untuk membaca sampai akhir.
    Tunggu cerpen ane ya kak. Ane juga lagi mencari ide kreatif untuk membuat flash fiction atau cerpen. Sayangnya belum ketemu juga nih idenya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah kang. Kok komentar akunnya langsung dilempar ke artikel ini sih. Ane kan sudah baca artikelnya tadi. Mending ke alamat blog secara umum kang.

      Delete
    2. Wah, tersanjung aku sob hehehe...

      Iya sob, kelupaan :)

      Delete
  9. derita yang menarik,kreatip dan inofatip.bagus sob di lanjut dengan cerita2 yang lainnya sob.suksess sobn.

    ReplyDelete
  10. emang pantai tempat yang penuh kenangan =melepas penat di jiwa kang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul sob hehehe..

      Thanks ya kunjungannya :)

      Delete
  11. Replies
    1. Pas lagi mood bikin cerpen nih mbak hehehe..

      Delete
  12. sangat terharu sekali dengan kisahnya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lagi suka bikin cerita yang mengharu nih mbak hehehe...

      Delete
  13. ceile!!! lagi merambah ke dunia tarik suara kie?? eh, tarik cerpen?? kata2ne dicek maneh, kang!! akeh sing typo....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyo Kang, akeh sing salah ketik :D

      Delete
    2. tapi tetep sip markesip kok isinya... :)

      Delete
  14. Mampir Gan.. kunjungan perdana :-) Nice Blog.
    ,
    silahkan mampir juga ke blog saya & tinggalkan komentarnya :-)

    ReplyDelete
  15. sambil nyimak dulu bro cerpennya!.

    ReplyDelete
  16. wichhh.. keren artikelnya sob :D
    mantap..

    ReplyDelete
  17. Saleum,
    26 desember 2004 kemaren betul2 sangat membekas dihatiku...

    ReplyDelete
  18. Uhuk..ceritanya sedih sekali..Tapi Tsunami itu, yah, menyedihkan semua orang :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, betul vi. Thanks ya kunjungannya :)

      Delete
  19. luarbiasa..kisah ini sungguh mengharubiru...benar-benar tsunami membawa dampak yang luarbiasa :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul sob, sampai sekarang dampaknya pasti masih terasa.

      Delete
  20. dalam kisah nyata, mungkin ada ya yang mengalami kisah ini saat tragedi tsunami dahulu. getir di satu sisi, lalu ada cerita lain yang membungkus sedih dengan sebuah happy ending.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kemungkinan besar memang ada ya sob hehehe...

      Delete
  21. ini cerpen apa cerpan ya..., hehe....

    selamat berakhir pekan ya sob.. *smile

    ReplyDelete
  22. Masya Allah terharu gw.. ini budi dirimu kah bang?

    ReplyDelete
  23. :hiks....

    ngga rugi baca panjangnya.. :eeaa keren sob :D

    ReplyDelete
  24. . . menyedihkan banget kisah nya. huhh. bikin aq termewek^ aja. hikzZz,, hikzZz,, hikzZz,, . .

    ReplyDelete
  25. aku dattaaaaaaaaaang,
    udah 1/4 jam nongkrong disini
    #tariknapas
    butuh waktu panjang tuk melupakan,
    seseorang yg terlanjur singgah di hati
    inyong jadi kesetrum inget mei 2006.
    cerpennya provokatif kang, wkwkwk

    ReplyDelete
  26. hahahahaha!!!!!!!!!!!! aku terenyuh..

    ReplyDelete
  27. wah banyak cerita di dalamnya, seting waktu dan orang nya pun beda beda ya. ehm, seru juga. ada rayuan gombalnya juga lagi, bisa di pinjam. dan terakhir,semoga memang saudara saudara kita yang telah tiada karena bencana tsb bisa di ampuni.

    ReplyDelete
  28. cerpen? hmmm kurang nih ilustrasinyaa.

    ReplyDelete
  29. keren banget...

    salam kenal admain blog

    komentarkan artikel ini ya...

    http://www.timkomte.com/2012/09/traffic-pengunjung-rumahku-turun.html

    ReplyDelete
  30. kereenn, aku udah duga pas airnya surut bakalan ada tsunami, eh bener kan, hmm kalo orang2 ga dateng mungkin budi masih terus ngobrol sama fitri n bs juga budinya ikutan meninggal y. virnie? wew wise sekali dia sampe bilang kalo dia mau membagi budi kalo fitri masih hidup, seru2, ada niat untuk bikin novel? :)

    ReplyDelete

Maaf, komentar SPAM akan langsung dihapus :)

Statistik Blog

Check PageRank

Statistik Blog

  © Blogger template The Beach by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP